Download

Jumat, 06 November 2015

ASMA BINTI ABU BAKAR (Part 1)

ASMA BINTI ABU BAKAR (Part 1)
Pemilik dua ikat pinggang

Dia adalah ummu “abdillah dari suku quraisy at-tamimiyyah, putri dari seorang laki-laki yang pertama kali masuk islam setelah rasulullah saw, guru besar islam yaitu abu bakar as-shiddiq ra. Ibunya adalah qutailah binti ‘abdul ‘uzza al-‘amiriyyah. Asma’ adalah ibunda seorang shahabat dan pahlawan islam, Abdullah bin zubaiar, usianya lebih tua 10 tahun daripada adiknya, Ummul Mukminin ‘Aisyah Ra. Ia adalah seorang muhajirah yang terakhir wafat.
Asma’ adalah orang ke-18 yang memeluk islam. Dia telah berbai’at kepada nabi saw dan mengimaninya dengan keimanan yang teguh. Di antara bukti keteguhan imannya adalah ketika ibunya, qutailah yang telah diceraikan abu bakar pada masa jahiliyyah datang untuk menjenguknya, asma’ tidak mau mengizinkan ibunya untuk masuk dan tidak bersedia menerima hadiah darinya sebelum ia menanyakan hal tersebut terlebih dahulu kepada rasulullah. Dalam shahih bukhari dan shahih muslim disebutkan sebuah riwayat dari asma’ binti abu bakar ra, bahwa dia berkata: “ ibuku pernah mendatangiku pada masa rasulullah saw, sedang ibuku adalah seorang yang musrik. Aku pun pergi menanyakan hal itu kepada rasulullah saw. Sesampainya disananaku bertanya: ‘ibuku telah datang kepada ku dengan penuh antusias kepadaku. Apakah aku harus menyambung silahturahim dengannya?’ beliau menjawab: ‘ya, sambunglah silahturahim dengan ibumu!’”
Asma’ dijuluki dzaatun nithooqoin ( sang pemilik dua ikat pinggang), karena ia telah membelah ikat pinggangnya menjadi dua bagian untuk memudahkan membawa dan menyembunyikan makanan dan minuman yang akan diantarkannya kepada Rasulullah saw bersama abu bakar ke gua hira pada hari hijrahnya. Ketika rasulullah saw mengetahui apa yang dilakukan asma’ terhadap ikat pinggangnya, beliau memberinya gelar dzaatun nithooqoin.
Saar rasulullah saw bersama abu bakar hendak berangkat hijrah dari mekkah ke madinah, abu bakar membawa semua hartanya sejumlah kurang lebih 5000 atau 6000 dirham. Abu quhafah, kakek asma’, yang saat itu telah buta kedua matanya, datang kepada asma’, lalu berkata: “ sesungguhnya abu bakar telah menyusahkan kalian dengan kepergiannya dan tidak menyisakan hartanya untuk kalian.” Sebagai gadis suci dan pemberani, asma’ langsung menjawab: “ tidak, ia telah meninggalkan untuk kami harta yang banyak.” asma’ pun mengambil beberapa kerikil dan memasukkanya ke tempat penyimpanan uang, lalu ditutupinya dengan kain, kemudian dituntunnya tangan kakeknya pada kain tersebut seraya berkata: “inilah harta yang ditinggalkannya untuk kami.” Kakeknyaberkata: “baguslah jika dia meninggalkannya untuk kalian.” Tindakan tersebut dilakukan asma’ semata-mata untuk menenangkan dan menghilangkan kekhawati kakeknya yang sudah tua karena ditinggalkan abu bakar.
Asma pernah merasakan penyiksaan dari musuh Allah, abu jahal, yang datang kepadanya untuk merayu agar bersedia menunjukkan persembunyian ayahnya. Walaupun asma’ saat itu masih belia, ia sudah dapat memahami bahwa kata-kata yang keluar dari mulutnya bisa membahayakan keselamatan rosulullah saw dan ayahnya, maka dia memilih tutup mulut. Kalimat yang keluar dari mulutnya tidak lebih dari jawaban: “ Aku tidak tahu.” Hal ini membuat Abu jahal marah, lalu menempelengnya dengan keras hingga anting-antingnya terlempar dari telinganya. Akhirnya, abu jahal meninggalkan dengan muka merah padam karena marah atas sikap keras kepala asma’.
Demikianlah tindakan para pengecut pada setiap zama. Ketika mereka tidak mampu melumpuhkan kaum laki-laki, mereka melampiaskan kekejiannya pada kaum wanita dan anak-anak.
Tidak lama berada di mekkah, asma’ pun berhijrah ke madinah menyusul kaum muslim yang sudah lebih dahulu berangkat. Di madinah asma’ melahirkan anaknya, ‘abdullah, yang merupakan anak pertama yang lahir dalam islam (setelah hijrahnya kaum muslim ke madinah).
Asma adalah sosok wanita teladan yang baik dalam hal kesabaran menghadapi kesulitan hidup, kekurangan pangan, taat pada suami, dan selalu berusaha mencari keridhaannya.

Dalam hadist shahih disebutkan bahwa asma’ binti abu bakar berkata: “aku dinikahi zubair, sedang ia tidak mempunyai apa-apa selain seekor kudanya. Akulah yang merawat kuda itu, memberinya makan, dan menumbuk kurma untuk dijadikan makanan baginya. Akulah yang biasa mengambil air dan membuat roti. Aku juga biasa mengangkut kurma diatas kepalaku dari kebun zubair yang diberi rasulullah saw, yang jaraknya 2/3 farsakh ( 1 farsakh kurang lebih 8 km). Pada suatu hari, saat aku sedang membawa kurma diatas kepala, aku bertemu rasullah saw bersama beberapa sahabat beliau. Beliau memanggilku dan bermaksud memboncengkanku dibelakang beliau. Akan tetapi, aku malu berjalan bersama laki-laki dan aku teringat dengan zubair yang pencemburu. Akhirnya, beliau pun berlalu. Setibanya di rumah kuceritakan semua kejadian itu kepada zubair, lalu zubair berkata: “demi Allah, sesungguhnya kepayahanmu mengangkut biji-biji kurma itu lebih kucemburui daripada engkau naik kendaraan bersama beliau.” Asma’ berkata: “ semua kepayahanku itu baru berakhir sesudah abu bakar mengirimkan seorang pelayan kepadaku hingga aku tidak lagi mengurusi kuda, sehingga seakan-akan beliau memerdekakanku.”

Sabtu, 20 Juli 2013

KEMANA MELANGKAH!



“Dan orang-orang yang membantah Diinullah sesudah agama itu diterima, maka bantahan meraka itu sia-sia saja disisi Rabb mereka dan mereka akan mendapat murka dan bagi mereka siksa yang amat keras”.
Sesungguhnya kalau kita memikirkan usia kita, waktu hidup kita di dunia, tentunya kita akan bertanya, untuk apa waktu yang telah kita tunaikan selama ini. Jangan dipungkiri, bahwa kita memang menyadari hal itu, lalu apa jawab kita? Akankah kita mengatakan bahwa selama ini hidup kita untuk mengejar karier, studi, mencari nafkah, mencari kesenangan pribadi, bermain-main dengan teman sebaya? Atau yang lainnya, bahkan lebih dari itu. Sesudah itu apakah kita akan merasa puas, nikmat? Dan itukah yang kita tuju, tujuan hidup kita?
Ketahuilah, sesungguhnya tujuan hidup manusia bukanlah kesenangan di dunia semata, yakinlah akan adanya kehidupan lagi setelah mati. Dan kehidupan itu amat terkait dengan kehidupan di dunia yang sekarang ini tengah kita geluti. Kalau didunia kita menginginkan kebahagian, pada kehidupan setelah mati pun kita menginginkan kebahagiaan. Di sinilah kehidupan kekal, kampung akhirat, tempat kembali semua manusia.
“Dan diantara manusia ada yang mendo’a:
Ya Tuhan kami, berilah kami kebaikan di dunia dan kebaikan di akhirat dan peliharalah kami dari siksa neraka”. (Q.S. Al-Baqarah: 201)
Orang-orang beriman semestinya mengetahui bahwa kenikmatan dan kebahagiaan hidup (dunia dan akhirat) tidak akan berhasil di raih tanpa usaha yang sungguh-sungguh. Dengan usaha yang sungguh-sungguh ini pula akhirnya menyelamatkan orang-orang mukmin dari siksa neraka jahim. Lalu, bagaimana usaha yang sungguh-sungguh itu? Perhatikanlah, sesungguhnya tidak ada usaha yang sungguh-sungguh, tidak ada amalan yang dan aktivitas lain bagi kita, melainkan hanya taat dan berbakti kepada Rabb kita Allah SWT.
Orang-orang mukmin pun akan senantiasa mampu memecahkan segala problema kehidupan dan ujian keimanan, hanya dengan mengikuti perintah Khaliqnya, memenuhi seruannya dan menjauhi larangannya. Apa yang datang dari Allah mereka terima dengan penuh ikhlas dan dengan keikhlasannya pula mereka melaksanakan aturan Illahi di muka bumi ini dengan penuh rasa optimis, menjunjung tinggi nilai-nilai yang dikandungnya dan mereka musnahkan segala aturan-aturan yang nyata-nyata bertentangan dengan aturan Rabbnya.
Demikianlah aktivitas hidup seorang muslim di dunia ini, sebagaimana yang telah dicontohkan oleh Rasulullah Muhammad SAW. Bila seorang muslim telah memahami hal ini, niscaya ia akan mampu menjawab hakekat kehidupan ini. Pada akhirnya ketika hati kecil kita menanyakan ‘apakah kita telah menyiapkan bekal yang cukup untuk perjalanan abadi nanti di kampung akhirat? Maka dengan mantap pula kita akan menjawab, bahwa jika apa yang kita lakukan selama ini berjalan diatas aturan-Nya, Insya Allah kita sedang menyiapkan bekal, walaupun masih terlalu kecil.
Lebih jauh dari permasalahan di atas, tentunya kita juga akan memahami bahwa ternyata kehidupan dunia hanyalah ajang latihan dan ujian yang di masuki oleh berbagai umat pada tiap-tiap zaman. Dari sinilah akan diuji siapa yang taat kepada Rabbnya dan siapa yang ingkar kepada-Nya.
Sesungguhnya jika kita telah memahami hakekat kehidupan dunia, pasti kita semua akan berlomba-lomba untuk menyelamatkan diri dari segala kemaksiatan, bahkan lebih dari itu kita akan berusaha dan bekerja keras untuk menyelamatkan saudara-saudara kita, mengangkat setinggi-tingginya aturan Illahi dan menghalau segala bentuk dan fenomena kekufuran. Untuk selanjutnya kita memasuki kehidupan yang sejahtera dan sentosa, menjadi umat yang mempu memimpin dunia.

Kamis, 07 Februari 2013

Implementasi pendidikan karakter bangsa



Congratulation! You are in the process of becoming A“ VIP” in the lives of children, their parents, and caregivers. ( The Act Of Teaching – Donal R. Cruikshank)

Proses mendidik ibarat menanam pohon, yakni;
1.   Menyiapkan lahan : sebelum pohon ditanam, yang pertama adalah mempersiapkan lahan terlebih dahulu. Sebagaimana dalam belajar seorang guru harus mempersiapkan diri sebaik mungkin dalam menghadapi peserta didik. Ini adalah kunci awal dalam mengajar.
2.  Menggali : lahan yang telah tersedia perlu digarap, yaitu tanahnya harus digali. Setelah materi yang dikuasai dengan baik oleh guru selanjutnya guru memahami terlebih dahulu karakteristik peserta didik, seperti; bakat, minat, keinginan, perasaan.
3.     Menanam : setelah digali maka ditanam. Guru yang telah memahami karakter peserta didik akan lebih mudah menanamkan benih-benih ilmu kepada peserta didik.
4.   Menyiram : Pohon yang telah ditanam perlu disiram agar tumbuh dengan baik. Seperti halnya peserta didik, setelah benih-benih ilmu diberikan maka diperlukan suplemen atau pembekalan karakter berupa penanaman nilai-nilai moral, akhlak dan agama. Sehingga membentuk peserta didik yang paham akan nilai kehidupan berakhlak dan beragama. Hal ini dilakukan dalam KBM dengan menyelipkan nilai-nilai budaya dan karakter bangsa.
5.   Merawat  : pohon yang telah tumbuh besar diperlukan perawatan, sebagaimana peserta didik yang telah ditanamkan benih-benih ilmu dan diberikan suplemen karakter bangsa harus dirawat dan di jaga. Agar hal yang telah diberikan melekat pada peserta didik. Dalam pendidikan hal yang dilakukan adalah kontroling dalam belajar dan mengevalusi apa-apa yang telah diberikan (Feed back).

Beberapa hal yang dimiliki guru dalam mendidik peserta didik :
Kompetensi Guru menurut PP no 74 th 2008;
1.      Keperibadian ; harus berkepribadian baik : 
      a.       Berpenampilan fisik yang baik 
      b.      Berpenampilan sikap yang sopan 
      c.       Berpenampilan spiritual yang benar 
      d.      Memiliki advertisi (ketahanan diri)
2.      Sosial ; harus pandai bergaul : 
      a.       Keluarga 
      b.      Peserta didik 
      c.       Teman sejawat 
      d.      Pimpinan
3.      Profesional ; harus memiliki penampilan intektual yang baik : 
      a.       Kemampuan memahami / menguasai apa yang di ampu  
      b.      Kemampuan memahami ilmu pendidikan 
      c.       Kemampuan membuat karya inovatif 
      d.      Kemampuan melakukan publikasi ilmiah (menulis) 
      e.       Kemampuan melakukan penilitian tindakan kelas.
4.      Pedagogik ; 
      a.       Memahami karakteristik siswa 
      b.      Mengelola kelas 
      c.       Memahami kurikulum 
      d.      Melakukan evaluasi 
      e.       Memberikan motivasi

Semoga bermanfaat.

Selasa, 23 Oktober 2012

Everyday is Pede Day

 What is PD ? Dalam konsep al-Qur’an percaya diri sangat berkaitan erat dalam keimanan, jadi kita wajib menumbuhkan rasa pede. Dr.Akrim ridho mengatakan bahwa kepercayaan pada diri sendiri adalah sumber potensi utama seseorang dalam hidupnya. Nah,orang yang pd adalah orang yang tahu kemampuan dirinya bergerak karena keimanan Kepercayaan diri dapat menghasilkan tiga cara pandang seseorang ketika memandang persoalan: 1.Mereka yang berhenti (Quitters) Yaitu orang-orang yang tidak percaya diri memilih untuk keluar, menghindari kewajiban mundur dan berhenti ketika menemukan persoalan hidup atau sesuatu yang tidak diharapkan. Dan mereka sering berkata : “Seandainya dulu ……” 2.Mereka yang berkemah (Campers) Yaitu mereka yang cepat putus asa. Mereka pergi tidak seberapa jauh lalu berkata: “Sejauh ini sajalah saya mampu mendaki”. Mereka selalu berkata : “Ini sudah cukup baik”. Dan merasa cukup senang dengan ilusinya sendiri tentang apa yang sudah ada dan mengorbankan yang masih mungkin terjadi. 3.Para pendaki (Climbers) Yaitu orang-orang yang seumur hidupnya terus hidup untuk membaktikan dirinya pada “pendakian” tanpa menghiraukan latar belakang (kemungkinan kejadian) para climbers sangat bergairah dalam menghadapi tantangan-tantangan yang terjadi. Keyakinan mereka begitu besar meskipun orang lain bersikap negative memutuskan bahwa dia tidak akan berhasil.  Performance Si PD Apa sih yang membedakan orang pede dan tidak? Inilah yang membedakannya : 1. Berani tampil beda (Dalam hal positif dan tidak asal beda dan dilandaskan keimanan) 2. Berani menerima tantangan 3. Asertif (tegas, punya pendapat dan berani berkata tidak ) 4. Mandiri yang berperan membantu mengembangkan diri : 1. orang tua /guru 2. saudara kandung 3. sekolah 4. masyarakat 5. teman sebaya 6. pengalaman  How to be Pede ? 1. Belajar tentang islam lebih serius 2. Berpikir positif 3. Jadilah sahabat diri sendiri  Kiat untuk menjaga penerimaan terhadap diri sendiri - Buat daftar prestasi keberhasilan - Bersikap optimis - Mengubah sikap terhadap kegagalan - Tidak melihat kegagalan diri

Minggu, 01 Mei 2011

Pengertian Belajar Mengajar (1)

Proses belajar mengajar merupakan sebuah proses yang sangat kompleks dan saling berhubungan satu sama lain. Proses belajar mengajar bukan hanya sekedar transfer ilmu pengetahuan dari guru sebagai pengajar kepada siswanya sebagai penerima pengajaran, akan tetapi guru dituntut agar dapat membantu siswanya dalam mengembangkan seluruh aspek kepribadian dan lingkungannya, sepanjang itu memungkinkan secara profesional.
Pada dasarnya proses belajar mengajar mempunyai dua inti yaitu belajar dan mengajar. Berikut ini dijelaskan tentang pengertian tersebut secara satu persatu.
Dari Henry E. Garret dalam buku Konsep dan Makna Pembelajaran, Syaiful Sagala menyimpulkan bahwa,
Belajar merupakan proses yang berlangsung dalam jangka waktu yang lama melalui latihan maupun pengalaman yang membawa kepada perubahan diri dan perubahan cara mereaksi terhadap suatu perangsang tertentu.

Dalam proses belajar mengajar, latihan memang sesuatu yang diperlukan sehingga siswa tidak mudah lupa terhadap pelajaran yang telah dipelajari. Lupa merupakan salah satu indikasi kesulitan dalam menggali ingatan.
Bagi Slameto, belajar merupakan kegiatan menghafal sejumlah fakta-fakta. Karena jika seseorang telah mengalami proses belajar maka akan terlihat dari fakta-fakta yang dapat dihafalnya. Namun untuk bayak memperoleh kemajuan seseorang harus berlatih dalam berbagai aspek tingkah laku sehingga diperoleh suatu pola tingkah laku yang otomatis. Mengajar merupakan suatu usaha mengorganisasi lingkungan dalam hubungannya dengan anak didik dan bahan pengajarn yang menimbulkan proses belajar.
Maksud pengertian diatas, guru diharapkan mampu mengorganisir proses belajar siswa dan memanfaatkan lingkungan yang berada di dalam ataupun di luar kelas sehingga dapat menunjang proses belajar mengajar. Mengajar bukanlah proses yang mudah, karena mengajar berarti berinteraksi dengan siswa sebagai manusia, makhluk yang memiliki banyak dimensi dan permasalahan yang kompleks.
Menurut Alvin W. Howard yang dikutip oleh Slameto, menyimpulkan bahwa,
Mengajar adalah sutu aktivitas untuk mencoba menolong, membimbing seseorang untuk mendapatkan, mengubah dan mengembangkan skill, attitude, ideals (cita-cita), appreciation (penghargaan) dan knowledge.
Syarat utama proses belajar mengajar yaitu adanya interaksi (huungan timbale balik) antara guru dan siswa bukan hanya penyampaian pesan berupa materi pengajaran melainkan penanaman sikap dan nilai pada diri siswa yang sedang belajar.
Pengertian proses belajar mengajar ini seperti yang disimpulkan oleh Moh. Uzer Usman bahwa,
Proses belajar mengajar merupakan suatu proses yang mengandung serangkaian perbuatan guru dan siswa atas dasar hubungan timbal balik yang berlangsung dalam situasi edukatif untuk mencapai tujuan tertentu. ]

Maksudnya, dalam proses belajar mengajar ada dua subjek yaitu guru dan siswa yang saling berinteraksi secara aktif dan tidak hanya berlangsung satu arah saja. Dan proses belajar mengajar tersebut sengaja dilakukan dalam suasana yang kondusif.

Kamis, 21 April 2011

problem Posing dalam Pembelajaran Matematika

Sesuai dengan kedudukan problem posing merupakan langkah awal dari problem solving, maka pembelajaran problem posing juga merupakan pengembangan dari pembelajaran problem solving. Silver dkk (Sutiarso: 2000) menyatakan bahwa dalam problem posing diperlukan kemampuan siswa dalam memahami soal, merencanakan langkah-langkah penyelesaian soal, dan menyelesaikan soal tersebut. Ketiga kemampuan tersebut merupakan juga merupakan sebagian dari langkah-langkah pembelajaran problem solving.
Mengenai keterkaitan antara problem solving dengan problem posing, Brown & Walter (1993: 21) mengemukakn bahwa posing dan solving berhubungan antara satu dengan yang lainnya seperti orang tua terhadap anak, anak terhadap orang tua dan sebaik saudara kandung. Penelitian Silver dan Cai (1996: 521) menemukan hubungan positif yang kuat antara problem solving dan ketrampilan problem posing anak sekolah menengah. Sedangkan penelitian Hashimoto (Silver dan Cai, 1996: 522) menunjukkan bahwa pembelajaran problem solving menimbulkan dampak positif terhadap kemampuan siswa dalam problem solving.
Mengenai peranan problem posing dalam pembelajaran matematika, Sutiarso (2000) menjelaskan bahwa problem posing adalah adalah suatu bentuk pendekatan dalam pembelajaran matematika yang menekankan pada perumusan soal, yang dapat mengembangkan kemampuan berpikir matematis atau menggunakan pola pikir matematis. Hal ini sejalan dengan English (1998) yang menjelaskan bahwa problem posing adalah penting dalam kurikulum matematika karena di dalamnya terdapat inti dari aktivitas matematika, termasuk aktivitas di mana siswa membangun masalahnya sendiri. Silver (1994) dan Simon (1993) mengemukakn bahwa beberapa aktivitas problem posing mempunyai tambahan manfaat pada perkembangan pengetahuan dan pemahaman anak terhadap konsep penting matematika (English: 1998).
Brown dan Walter dalam Hamzah (2003: 19) menyatakan bahwa pengajuan masalah matematika tersiri dari dua aspek penting, yaitu accepting dan challenging. Accepting berkaitan dengan kemampuan siswa memahami situasi yang diberikan oleh guru atau situasi yang sulit ditentukan. Sementara challenging, berkaitan dengan sejauh mana siswa merasa tertantang dari situasi yang diberikan sehingga melahirkan kemampuan untuk mengajukan masalah matematika.
Suryanto dalam Zahra (2007: 6) menjelaskan bahwa:
1.Problem posing adalah perumusan soal sederhana atau perumusan ulang soal yang ada dengan beberapa perubahan agar lebih sederhana sehinga soal tersebut dapat diselesaikan. Ini terjadi pada soal-soal yang rumit.
2.Problem posing adalah perumusan soal-soal yang berkaitan dengan syarat-syarat pada soal yang akan diselesaikan menekankan pada pengajuan soal oleh siswa.
3.Problemposing adalah pengajuan soal dari informasi yang tersedia, baik dilakukan sebelum, ketika atau setelah kegiatan penyelesaian.
Silver dalam Hamzah (2003: 18) menemukan bahwa pendekatan problem posing merupakan suat aktivitas dengan dua pengertian yang berbeda yaitu:
1.Proses pengembangan matematika yang baru oleh siswa berdasarkan situasi yang ada
2.Proses memformulasikan kembali masalah matematika dengan kata-kata sendiri berdasarkan situasi yang diberikan. Dengan demikian, masalah matematika yang diajukan oleh siswa mengcu pada situasi yang telah disiapkan oleh guru.
Selanjutnya Hamzah (2003: 17) mengemukakan bahwa dalam pustaka pendidikan, problem posing dalam matematika oleh siswa mempunyai 3 pengertian.
1.Problem posing (pengajuan masalah)adalah rumusan masalah matematika sederhana atau perumusan ulang masalah yang telah diberikan dengan beberapa cara dalam rangka menyelesaikan masalah yang rumit.
2.Problem posing (pengajuan masalah) adalah perumusan masalah matematika yang berkaitan dengan sarat-sarat pada masalah yang dipecahkan dalam rangka mencari alternatif pemecahan masalah yang relevan.
3.Problem posing (pengajuan masalah) adalah merumuskan atau mengajukan pertanyaan matematika dari situasi yang diberikan, baik diajukan sebelum, pada saat atau setelah pemecahan masalah.
Dari beberapa pendapat para ahli, dapat disimpulkan bahwa pendekatan problem posing adalah suatu pendekatan dalam pembelajaran matematika dimana siswa diminta untuk merumuskan, membentuk dan mengajukan pertanyaan atau soal dari situsi yang disediakan. Situasi dapat berupa gambar, cerita, atau informasi lain yang berkaitan dengan materi pelajaran.

Minggu, 16 Januari 2011

Peran Guru dalam Membangun LIFE SKILL di Sekolah

Kurikulum berbasis Kompetensi ( KBK ); dapat dikatakan sebagai salah satu bentuk inovasi kurikulum. Kemunculan KBK seiring dengan munculnya semangat reformasi pendidikan, diawalai dengan munculnya kebijakan pemerintah di antaranya lahirnya Undang-undang No. 22 Tahun 1999 tentang Pemerintah Daerah; Undang-undang No 25 Tahun 2000 tentang Kewenangan Pemerintahan dan Kewenangan Provinsi sebagai Daerah Otonom; serta lahirnya Tap MPR No. IV/MPR/1999 tentang Arah Kebijakan Pendidikan di Masa Depan. Di samping itu, rendahnya kualitas pendidikan merupakan faktor pendorong lain perlunya perubahan kurikulum dalam konteks reformasi pendidikan.

Pengertian kurikulum sebagai pengalaman belajar mengandung makna bahwa kurikulum adalah seluruh kegiatan yang dilakukan siswa baik di dalam maupun di luar sekolah asal kegiatan tersebut berada di bawah tanggung jawab guru ( sekolah ). Yang dimaksud dengan kegiatan itu tidak terbatas pada kegiatan intra muapun ekstra kurikuler. Apa pun yang dilakukan siswa asal saja ada di bawah tanggung jawab dan bimbingan guru, itu adalah kurikulum.
Pendidikan kita selama ini berjalan dengan verbalistik dan berorientasi semata-mata kepada penguasaan mata pelajaran. Pengamatan terhadap praktek pendidikan sehari-hari menunjukkan bahwa pendidikan difokuskan agar siswa menguasai informasi yang terkandung dalam materi pelajaran dan kemudian dievaluasi dari seberapa jauh penguasaan itu dicapai oleh siswa. Seakan-akan pendidikan bertujuan untuk menguasai matapelajaran. Bagaimana keterkaitan materi ajar dengan kehidupan sehari-hari dan bagaimana materi tersebut dapat digunakan untuk memecahkan problema kehidupan, kurang mendapat perhatian. Pendidikan seakan terlepas dari kehidupan keseharian, seakan-akan pendidikan untuk pendidikan atau pendidikan tidak terkait dengan kehidupan sehari-hari. Oleh karena itu siswa tidak mengetahui manfaat apa yang dipelajari dan sampai lulus seringkali tidak tahu bagaimana menggunakan apa yang telah dipelajari dalam kehidupan sehari-hari yang dihadapi.
Bertolak dari masalah tersebut, kiranya perlu dilakukan langkah-langkah agar pendidikan dapat membekali peserta didik dengan kecakapan hidup, yaitu kemampuan dan keberanian menghadapi problema kehidupan, kemudian secara kreatif menemukan solusi serta mampu mengatasinya. Pendidikan yang dapat mensinergikan berbagai mata pelajaran/mata diklat/mata-kuliah menjadi kecakapan hidup yang diperlukan seseorang, di manapun ia berada, bekerja atau tidak bekerja, apapun profesinya. Dengan bekal kecakapan hidup yang baik, diharapkan para lulusan akan mampu memecahkan problema kehidupan yang dihadapi, termasuk mencari atau menciptakan pekerjaan bagi mereka yang tidak melanjutkan pendidikannya.
Untuk mewujudkan hal ini, perlu diterapkan prinsip pendidikan berbasis luas yang tidak hanya berorientasi pada bidang akademik atau vokasional semata, tetapi juga memberikan bekal learning how to learn sekaligus learning how to unlearn, tidak hanya belajar teori, tetapi juga mempraktekkannya untuk memecahkan problema kehidupan sehari-hari (Bently, 2000). Pendidikan yang mengitegrasikan empat pilar pendidikan yang diajukan oleh UNESCO, yaitu learning to know, learning to do, learning to be, and learing to live together.
Kurikulum berbasis kompetensi adalah acuan untuk menyelenggarakan pendidikan pada tiap jenjang pendidikan. Pendidikan berbasis kompetensi adalah pendidikan yang menekankan pada kemampuan yang harus dimiliki oleh lulusan yang sesuai dengan tujuan pendidikan nasional, mencakup komponen pengetahuan, keterampilan, kecakapan, kemandirian, kreatifitas, kesehatan, akhlak, ketakwaan, dan kewarganegaraan. Sedangkan implikasi penerapan pendidikan berbasis kompetensi adalah perlunya pengembangan silabus dan sistem penilaian yang menjadikan peserta didik mampu mendemonstrasikan pengetahuan dan keterampilan sesuai dengan standar yang ditetapkan dengan mengintegrasikan life skill (Depdiknas, 2003, Pedoman khusus pengembangan silabus dan penilaian kurikulum 2004).
Life skill yang dimaksud meliputi general skills dan specific skill. General skill terdiri dari self awareness (kesadaran diri); thinking skill (keterampilan berfikir); dan social skills (keterampilan sosial). Sedangkan spesific skills terdiri dari academic skills (keterampilan akademik) dan vocational skill (keterampilan kejuruan atau keterampilan tugas tertentu). Tekanan jenis-jenis life skill ini berbeda pada jenjang yang berbeda. Untuk SD dan SMP life skill yang dikembangkan lebih menekankan pada general skill sedangkan pada SMA tekanannya pada academic skills (Depdiknas, 2003, Pedoman khusus pengembangan silabus dan penilaian kurikulum 2004). Life skills atau kecakapan hidup ini harus dimunculkan dalam setiap kegiatan di sekolah baik dalam kegiata Adapun tujuan dari pengembangan kecakapan hidup siswa ini adalah sebagai berikut:
1.mengaktualisasi potensi anak sehingga dapat digunakan untuk memecahkan problema yang dihadapi
2.memberikan wawasan yang luas dalam mengembangkan karier
3.memberikan bekal dengan latihan dasar tentang nilai-nilai yang berkaitan dengan kehidupan sehari-hari
4.memberikan kesempatan kepada sekolah untuk mengembangkan pembelajaran yang fleksibel sesuai dengan prinsip pendidikan berbasis luas
5.mengoptimalkan pemanfaatan sumber daya yang ada di masyarakat
Secara umum manfaat pendidikan berorientasi pada kecakapan hidup bagi peserta didik adalah sebagai bekal dalam menghadapi dan memecahkan problema hidup dan kehidupan, baik sebagai pribadi yang mandiri, warga masyarakat, maupun sebagai warga negara. Jika hal itu dapat dicapai, maka faktor ketergantungan terhadap lapangan pekerjaan yang sudah ada dapat diturunkan, yang berarti produktivitas nasional akan meningkat secara bertahap.

Kecakapan hidup dapat dipilah menjadi dua jenis utama, yaitu:
1.Kecakapan hidup yang bersifat generik (generic life skill/GLS); yang mencakup kecakapan personal (personal skill/PS) dan kecakapan sosial (social skill/SS). Kecakapan personal mencakup kecakapan akan kesadaran diri atau memahami diri (self awareness) dan kecakapan berpikir (thinking skill); sedangkan kecakapan sosial mencakup kecakapan berkomunikasi (communication skill) dan kecakapan bekerjasama (collaboration skill).
2.Kecakapan hidup spesifik (specific life skill/SLS); yaitu kecakapan untuk menghadapi pekerjaan atau keadaan tertentu, yang mencakup kecakapan akademik (academic skill) atau kecakapan intelektual dan kecakapan vokasional (vocational skill). Kecakapan akademik terkait dengan bidang pekerjaan yang lebih memerlukan pemikiran, sehingga mencakup kecakapan mengidentifikasi variabel dan hubungan antara satu dengan lainnya (identifying variables and describing relationship among them) , kecakapan merumuskan hipotesis (constructing hypotheses) , dan kecakapan merancang dan melaksanakan penelitian ( designing and implementing a research) . Kecakapan vokasional terkait dengan bidang pekerjaan yang lebih memerlukan keterampilan motorik. Kecakapan vokasional mencakup kecakapan vokasional dasar (basic vocational )

Mengembangkan Soft Skills Siswa

Kesuksesan seseorang tidak ditentukan semata-mata oleh pengetahuan dan keterampilan teknis (hard skills), tetapi oleh keterampilan mengelola diri dan orang lain (soft skills). Pendidikan soft skills bertumpu pada pembinaan mentalitas agar siswa dapat menyesuaikan diri dengan realitas kehidupan. Hasil penelitian mengungkapkan, kesuksesan seseorang hanya ditentukan sekitar 20 persen dengan hard skill dan sisanya 80 persen dengan soft skills.

Proses pendidikan merupakan perubahan pengetahuan (kognitif), keterampilan (psikomotor) dan sikap (afektif) seseorang, maka pendidikan seharusnya menghasilkan output dengan kemampuan yang proporsional antara hard skills dan soft skills. Selain karena kurikulum yang memiliki muatan soft skills yang rendah dibanding muatan hard skills, ketidakseimbangan antara soft skills dengan hard skills juga dapat disebabkan oleh proses pembelajaran yang menekankan pada perolehan nilai hasil ulangan maupun nilai hasil ujian. Banyak guru yang memiliki persepsi bahwa peserta didik yang memiliki kompetensi yang baik adalah memiliki nilai hasil ulangan/ujian yang tinggi. Persepsi ini menyebabkan guru terkungkung dalam proses pembelajaran yang konvensional (teacher centered), baik dalam penyampaian demikian juga pada proses penilaianya. Saat ini sudah saatnya guru lebih kreatif dan inovatif dalam menciptakan proses belajar mengajar yang berpusat pada siswa (student centered learning).

Setiap orang termasuk peserta didik sudah memiliki soft kills walaupun berbeda-beda. Soft skills ini dapat dikembangkan menjadi lebih baik atau bernilai (diterapkan dalam kehidupan sehari-hari) melalui proses pembelajaran. Pendidikan soft skills tidak seharusnya melalui satu mata pelajaran khusus, melainkan dintegrasikan melalui mata pelajaran yang sudah ada atau dengan menggunakan strategi pembelajaran yang berpusat pada siswa. Salah satunya adalah pembelajaran kontekstual (Contextual Teaching and Learning).

Pembelajaran kontekstual (CTL) adalah konsep belajar yang membantu guru mengaitkan antara materi yang diajarkan dengan situasi dunia nyata siswa. Selain itu, mendorong siswa membuat hubungan antara pengetahuan yang dimiliki dengan penerapan dalam kehidupan sehari-hari dengan melibatkan komponen utama pembelajaran. Yaitu, konstruktivisme, menemukan, bertanya, masyarakat belajar, pemodelan, refleksi dan penilaian yang sebenarnya. Sebuah Kelas dikatakan menggunakan pendekatan pembelajaran kontekstual apabila menerapakan ketujuh komponen tersebut dalam proses pembelajaran.
Dari ketujuh komponen tersebut, pembelajaran kontekstual merupakan pembelajaran yang berlandaskan pada dunia kehidupan nyata, berpikir tingkat tinggi, aktivitas siswa, aplikatif, berbasis masalah nyata, penilaian komprehensif, dan pembentukan manusia yang memiliki akal sehat. CTL dilaksanakan melalui beberapa pendekatan pengajaran, antara lain:
1.Belajar berbasis masalah
2.Pengajaran autentik
3.Pengajaran berbasis Inquiri
4.Belajar berbasis proyek/tugas terstruktur
5.Belajar berbasis kerja
6.Belajar berbasis layanan
7.Belajar kooperatif

Pendekatan pengajaran dapat di implementasikan melalui strategi pembelajaran kontekstual yang meliputi:
1.Menekankan pentingnya pemecahan masalah/problem
2.Perlunya proses pembelajaran dilakukan dalam berbagi konteks seperti rumah, masyarakat dan tempat kerja
3.Mengontrol dan mengarahkan pembelajaran, agar siswa dapat belajar mandiri
4.Bermuara pada keragaman konteks kehidupan siswa yang berbeda-beda
5.Mendorong siswa belajar dari sesama teman dan belajar bersama, 6. Menggunakan penilaian autentik

Melalui pendekatan dan strategi diatas dapat disimpulkan bahwa pembelajaran kontekstual dapat mengembangkan soft skills siswa. Soft skills yang akan muncul dalam diri siswa sebagi akibat dari implementasi pembelajaran kontekstual meliputi:
1.Berpikir kritis
2.Kemauan belajar
3.Motivasi
4.Berkomunikasi
5.Kreatif
6.Memecahkan masalah
7.Bekerja sama,
8.Mandiri
9.Berargumentasi logis
10.Memimpin
11.Mengembangkan diri